Kisah Sejati Kisah Hidupku
Kisah ini aku tulis selain untuk melengkapi tulisanku sebelumnya, juga untuk mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh
http://anazkia.multiply.com/journal/item/359/Kontes_Blog_Bermula dan
http://denaihati.com (udah bisa caranya nge-link... hehehehe.... makasih mb anaz info nya...)
Aku kehilangan kasih sayang mama pada usia 6 tahun. Mama yang baru aku kenal dalam waktu yang begitu singkat harus berpulang karena penyait gagal ginjal yang beliau derita.
Usia yang masih begitu muda, membuat aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi dan apa dampak peristiwa itu.
Kurang lebih setahun kemudian, papa menikah lagi. Awalnya aku tidak setuju karena tidak mau ada orang baru yang masuk ke keluarga kami apalagi untuk menggantikan mama. Tapi setelah dibujuk berbagai pihak akhirnya aku mengijinkan papa menikah, apalagi banyak yang mengatakan kalau papa butuh pendamping hidup. Tentu saja aku belum tahu maksudnya, aku hanya tahu kalau aku tidak setuju, papa jadi gak punya teman dan bisa sedih.
Awalnya aku menerima kehadiran ibu baruku dengan tangan terbuka. Tidak pernah terpikir untuk membenci dia.
Hubungan kami pun awalnya baik-baik saja tapi seiring waktu konflik lebih banyak terjadi. Kami tidak pernah cocok bersama. Kegiatan-kegiatan keluarga yang papa rancang untuk kami ikuti bersama sebagai kegiatan bersenang-senang malah menjadi waktu yang paling menyiksa bagiku.
Menghadapi ibu tiri yang selalu bermuka cemberut dan jarang berkata-kata manis, apalagi setelah dia punya anak sendiri, membuat aku yang masih kecil mulai mengerti rasa benci kepada orang lain. Aku menjadi semakin tertutup kepada papa. Rasanya aku ada diluar lingkaran keluarga baru papa itu.
Keadaan itu yang membuat komunikasiku dengan papa menjadi terbatas. Aku merasa sudah tidak berhak merepotkan papa. Jadi segala unek-unek, kemarahan, kekecewaan dan keinginanku sering aku pendam sendiri. Aku selalu iri dengan teman-teman yang bisa menjalin hubungan yang baik dengan orang tuanya. Rasanya seperti melihat ke dunia mimpi. Bukan dunia nyata tempatku hidup.
Aku selalu berusaha tidak menangis menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada seberapapun sakitnya karena bagiku air mata adalah tanda kekalahan. Apapun yang terjadi aku tidak mau sampai kalah bahkan terpuruk.
Untung aku mempunyai eyang putri (ibu dari mama) yang tinggal satu kompleks dengan kami. Orang tua dan adik-adik mama, awalnya tinggal satu rumah dengan kami tapi setelah papa menikah lagi, mereka pindah ke rumah yang jaraknya dekat dari rumah kami. Dirumah eyang ini aku baru bisa menyebutnya sebagai rumahku. Aku dan adikku lebih banyak beraktifitas disini. Nanton, makan, ngumpul-ngumpul bahkan menginap. Papa sering kali harus memaksa kami pulang untuk tidur dirumah karena seringnya kami menginap di rumah eyang.
Papa adalah papa yang baik tapi pembawaannya yang keras sering kali tidak cocok dengan kami yang masih usia anak-anak. Papa juga mungkin bingung memenuhi kebutuhan kami karena ”jarak” yang tercipta antara kami. Disatu sisi kami merasa terpisah dari dunia papa yang baru, disisi lain papa tidak tahu bagaimana cara merangkul kami kembali ke dunianya.
Mungkin papa juga merasa sepi bahkan cemburu kami lebih dekat ke keluarga mama daripada dengan beliau yang merupakan satu-satunya orang tua kandung kami, tapi mau gimana lagi, hanya di rumah ini kami merasa menjadi keluarga, bukan orang asing yang menumpang tinggal.
Tahun 1998 konflik di Timor-timur membuat kami harus segera pindah. Saat itu aku sudah kelas 2 SMP.
Terjadi perdebatan antara papa dan keluarga mama karena keinginanku pindah ikut mereka ke kota blitar, sedangkan papa ingin kami ikut beliau pindah ke jogja. Setelah semua keluarga mama turun tangan, akhirnya papa mengijinkan aku dan adik untuk ikut eyang pindah ke blitar walaupun untuk sementara cz kelas 3 SMA aku harus ikut papa lagi tinggal di jogja dan masa-masa tidak mengenakkan itu kembali datang.
Beruntung aku dan adik bisa melewati semuanya tanpa luka psikologis yang dalam walaupun banyak air mata dan kemarahan. Kami banyak tergores disana sini tapi secara keseluruhan, kami bisa melewatinya dengan baik.
Kini aku dan adikku sudah sama-sama sudah dewasa. Adiku malah sudah berkeluarga dan mempunyai 1 buah hati. Sedangkan aku, Insya Allah tahun ini segera menyusul.
Akhirnya aku menemukan orang yang bisa membantuku menyembukan goresan-goresan yang ada. Pria yang bersamanya aku bisa menjadi diri sendiri. Tidak takut ditolak kalau ingin bermanja-manja dan membutuhkan kasih sayang darinya.
Masa-masa itu sudah berlalu, dan aku tidak menyesali apa yang terjadi karena tanpa masa-masa itu, aku yang sekarang tidak akan pernah ada. Itulah kisah hidupku yang menjadi akar usul jati diriku. Menjadikan aku yang sekarang. Aku yang bisa merasa bangga dengan pencapaianku selama ini.
Alhamdulillah.... kesedihan juga mulai terobati. Sekarang pelan-pelan memperbaiki semuanya dan berusaha meraih mimpi masa kecilku untuk membangun keluargaku sendiri dengan penuh kasih sayang. Semoga keteguhan itu tetap terjaga dan bersiap menghadapi halangan dan rintangan di masa depan. Amin

